Produksi Minyak RI Bikin Khawatir, Lapangan Sudah Pada Uzur

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Produksi minyak siap jual atau lifting hingga Desember 2023 kemarin belum mencapai target yang telah ditetapkan di dalam APBN. Adapun lifting minyak Indonesia tercatat hanya 607 ribu barel per hari (bph) dari target 660 ribu bph.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai problem mendasar tidak tercapainya lifting minyak pada 2023 lantaran selama ini hanya mengandalkan lapangan-lapangan tua. Artinya tren penurunan produksi secara alamiah tak bisa dihindari.

“Biasanya kalau lapangan-lapangan seperti karakteristik yang kita punya atau di Indonesia upaya maksimal yang bisa dilakukan itu hanya menghambat laju penurunan produksinya, kalau produksinya katakanlah yang biasanya turun 10% mungkin maksimal yang bisa diupayakan turunnya 5%,” kata dia kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/1/2024).

Oleh sebab itu, Komaidi memandang cukup sulit bagi pemerintah untuk menggenjot kenaikan produksi minyak kalau hanya mengandalkan dari lapangan tua. Kecuali dalam waktu dekat ini ditemukan lapangan minyak baru yang dapat menggantikan produksi yang menurun.

“Kalau apa yang harus dilakukan di 2024, kalau sudah ada lapangan-lapangan yang onstream artinya dari kegiatan eksplorasi yang sudah mulai onstream saya kira itu yang perlu dipercepat tingkat komersialisasinya atau produksinya. Kalau lapangan yang sudah tua maksimal ya tadi jaga produksinya agar tidak turun drastis,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara perihal realisasi produksi minyak siap jual (lifting) pada 2023 yang masih belum mencapai target.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengatakan hal tersebut terjadi lantaran dua hal. Pertama yakni kondisi sumur migas yang sudah berumur tua dan yang kedua adanya gangguan di fasilitas produksi.

“Memang pertama itu lapangan kita sudah tua menurun tekanannya dan cadangannya pertama itu, dan kedua adalah fasilitas-fasilitas yang udah tua itu yang perlu diganti dulu sekarang,” kata Tutuka ditemui di Kantornya, dikutip Kamis (4/1/2024).

Lebih lanjut, Tutuka membeberkan gangguan produksi terjadi lantaran fasilitas produksi migas berupa pipa yang sudah berumur puluhan tahun. Kondisi tersebut rupanya sudah tidak layak untuk digunakan.

Ia mencontohkan fasilitas pipa yang berumur tua itu beberapa diantaranya berada di wilayah operasi anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Misalnya, seperti di Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) dan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

“Sebagai contoh di OSES itu penggantian pipa, di ONWJ juga akan diganti seperti itu. Kalau itu udah bisa terjadi nanti kenaikan produksi bisa dilakukan dengan teknologi-teknologi yang lebih maju. Masalahnya masih di situ jadi kita perbaiki dulu fasilitas-fasilitas nya,” kata Tutuka. https://kesulitanitu.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*