Panasnya Data Pekerja AS, Bikin Wall Street Makin Ambles

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street sebagian kembali dibuka lebih rendah pada awal perdagangan setelah setelah data pekerja AS yang lebih panas dari perkiraan pelaku pasar.

Pada perdagangan Jumat (5/1/2024), Dow Jones dibuka terkoreksi 0,005% di level 37.438,56, begitu juga dengan Nasdaq dibuka turun 0,07% di level 14.500,11, sementara S&P 500 dibuka lebih tinggi atau naik tipis 0,01% di level 4.689,32.

Sementara pada perdagangan Kamis (4/1/2024), Dow Jones ditutup menguat 0,03% di level 37.440,34, sementara S&P 500 terperosok 0,34% di level 4.688,68 dan nasdaq juga turun 0,56% di level 14.510,30.

Indeks utama Wall Street berada di jalur pelemahan pada awal perdagangan Jumat setelah laporan pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan mengisyaratkan ketahanan di pasar tenaga kerja dan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga yang cepat tahun ini.

Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan pengusaha AS mempekerjakan lebih banyak pekerja dari perkiraan pada bulan Desember dan menaikkan upah dengan jumlah yang besar. Jumlah gaji non-pertanian (non-farm payrolls) meningkat sebesar 216.000, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan sebesar 170.000, menurut para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Perekonomian AS menambah 2,7 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2023, penurunan tajam dari 4,8 juta lapangan kerja yang diciptakan pada tahun 2022. Hal ini mencerminkan menurunnya permintaan tenaga kerja dan perekonomian yang lebih luas setelah kenaikan suku bunga bank sentral AS sebesar 525 basis poin sejak bulan Maret 2024.

Data tersebut menunjukkan bahwa perekonomian terhindar dari resesi pada tahun lalu dan kemungkinan akan terus tumbuh hingga tahun 2024 karena ketahanan pasar tenaga kerja mendukung belanja konsumen. Diperlukan sekitar 100.000 pekerjaan per bulan untuk mengimbangi pertumbuhan populasi usia kerja.

Sementara, tingkat pengangguran tidak berubah dari bulan November di 3,7%, dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan 3,8%, sementara pendapatan rata-rata naik 0,4% setiap bulan, dibandingkan perkiraan pertumbuhan 0,3%.

“Meskipun data menegaskan bahwa perekonomian kuat dan soft landing sedang terjadi, ini adalah sebuah kenyataan untuk pasar yang sedikit lebih maju,” ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, dilansir dari Reuters.

“Laporan ini tentu sedikit mendorong ekspektasi dan bulan Mei mungkin merupakan kasus dasar yang baik untuk digunakan saat ini (untuk penurunan suku bunga),” tambah Mayfield.

Pasar uang telah mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Maret, dengan para pedagang kini melihat peluang 57% untuk melakukan penurunan setidaknya 25 basis poin, dari hampir 65% sebelum data dirilis, menurut alat FedWatch CME Group.

Imbal hasil surat utang AS, yang merupakan indikator ekspektasi suku bunga, naik lebih tinggi setelah data tersebut dirilis, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun naik melampaui 4% ke level tertinggi dalam tiga minggu.

Secara mingguan, indeks acuan S&P 500 berada di jalur penurunan untuk mencatat kinerja terburuknya sejak akhir Oktober karena investor mengambil keuntungan setelah kenaikan sembilan minggu berturut-turut yang didorong oleh spekulasi bahwa penurunan suku bunga agresif akan segera terjadi.

Sementara, Nasdaq berada di jalur minggu terburuknya sejak akhir September, yang dipengaruhi oleh perpindahan saham-saham teknologi ke sektor-sektor defensif seperti layanan kesehatan, keuangan, dan utilitas.

Hari ini, investor akan menganalisis pidato Presiden The Federal Reserve Richmond Thomas Barkin, yang merupakan anggota pemungutan suara tahun ini. https://botakbrewok.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*